Halaman

    Social Items


PENGERTIAN SELF EFFICACY


Bandura (1997) mengemukakan bahwa self efficacy adalah evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan.

Dimensi Self Efficacy


1. Level

Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu untuk melakukannya.

Apabila individu dihadapkan pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitannya, maka self efficacy individu mungkin akan terbatas pada tugas-tugas yang mudah, sedang,

bahkan meliputi tugas-tugas yang paling sulit, sesuai dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat.

Dimensi ini memiliki implikasi terhadap pemilihan tingkah laku yang dirasa mampu dilakukannya dan menghindari tingkah laku yang berada di luar batas kemampuan yang di rasakannya.

2. Strength

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu mengenai kemampuannya.

Pengharapan yang lemah mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak mendukung. Sebaliknya, pengharapan yang mantap mendorong individu tetap bertahan dalam usahanya.

Meskipun mungkin ditemukan pengalaman yang kurang menunjang. Dimensi ini biasanya berkaitan langsung dengan dimensi level, yaitu makin tiggi level taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan yang dirasakan untuk menyelesaikannya.

3. Generality

Dimensi ini berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana individu merasa yakin akan kemampuannya. Individu dapat merasa yakin terhadap kemampuan dirinya.

Apakah terbatas pada suatu aktivitas dan situasi tertentu atau pada serangkain aktivitas dan situasi yang bervariasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy


1. Pengalaman Keberhasilan (Mastery Experience)

Mastery experience merupakan prestasi yang pernah dicapai pada masa lalu. Sebagai sumber, pengalaman masa lalu menjadi pengubah self efficacy yang paling kuat pengaruhnya.

Prestasi yang bagus meningkatkan ekspetasi self efficacy, sedangkan kegagalan menurunkan ekspektasi self efficacy. Dampak dari self efficacy berbeda-beda, tergantung dari proses pencapaiannya, yaitu:

1) Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat self efficacy semakin tinggi.
2) Kerja sendiri lebih meningkatkan self efficacy dibandingkan kerja kelompok atau dibantu orang lain.
3) Kegagalan menurunkan self efficacy, kalau orang merasa sudah melakukannya dengan sebaik mungkin.
4) Kegagalan ketika dalam suasana emosional atau stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
5) Kegagalan ketika orang memiliki self efficacy tinggi, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang memiliki self efficacy rendah.
6) Orang yang biasa berhasil sesekali gagal tidak mempengaruhi self efficacy.

2. Pengalaman Orang lain (Vicarious Experience)

Diperoleh melalui model sosial. Self efficacy akan meningkat ketika individu mengamati keberhasilan orang lain, ketika melihat orang lain dengan kemampuan yang sama berhasil dalam suatu bidang atau tugas melalui usaha yang tekun.

individu juga akan merasa yakin bahwa dirinya juga dapat berhasil dalam bidang tersebut dengan usaha yang sama.

Sebaliknya, dapat menurun ketika orang diamati gagal walaupun telah berusaha dengan keras, individu juga akan ragu untuk berhasil dalam bidang tersebut.

Peran vicarious experience terhadap self efficacy seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi diri dari individu tersebut tentang dirinya memiliki kesamaan dengan model.

3. Persuasi Verbal (Verbal Persuasion)

Self-efficacy juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi verbal. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat, persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi self-efficacy.

Kondisi ini adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistis dari apa yang dipersuasikan.

Pada persuasi verbal, individu diarahkan dengan saran, nasihat, dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan keyakinannya tentang kemampuan–kemampuan yang dimiliki yang dapat membantu mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Keadaan Emosional

Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi self efficacy dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas dan stres dapat mengurangi self efficacy,

namun bisa juga terjadi peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan self efficacy. Perubahan tingkah laku dapat terjadi kalau sumber ekspektasi self efficacy berubah.

Perubahan self efficacy banyak dipakai untuk memperbaiki kesulitan dan adaptasi tingkah laku orang yang mengalami berbagai masalah.

Proses-Proses Self Efficacy


1. Proses Kognitif

Proses kognitif merupakan suatu proses berfikir yang didalamnya termasuk pemerolehan, pengorganisasian, dan penggunaan informasi. Biasanya, tindakan manusia berawal dari sesuatu apa yang difikirkan terlebih dahulu.

Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan.

Sebaliknya, individu dengan self efficacy rendah lebih banyak membayangkan kegagalan dan hal lainnya yang dapat menghambat kesuksesan.

2. Proses Motivasi

Individu memberi motivasi untuk dirinya sendiri dan mengarahkan suatu tindakan untuk melalui tahap pemikiran-pemikiran sebelumnya.

Kepercayaan akan kemampuan diri dapat mempengaruhi motivasi dalam beberapa hal, yaitu salah satunya menentukan tujuan yang telah ditentukan individu.

seberapa besar usaha yang dilakukan, seberapa tahan mereka dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan keyakinan setiap individu dalam menghadapi kegagalan.

3. Proses Afektif

Proses afektif merupakan suatu proses pengendalian kondisi emosi dan reaksi emosional pada individu.

Menurut Bandura (1997) keyakinan individu akan coping mereka turut mempengaruhi level stres dan depresi seseorang saat mereka menghadapi situasi yang sulit.

Persepsi self efficacy tentang kemampuannya mengendalikan sumber stres memiliki peranan penting dalam timbulnya kecemasan.

Individu yang percaya akan kemampuannya untuk mengontrol situasi cenderung tidak memikirkan hal-hal yang negatif.

Individu yang merasa tidak mampu mengontrol situasi cenderung mengalami level kecemasan yang tinggi, selalu memikirkan kekurangan mereka, memandang lingkungan sekitar penuh dengan ancaman, membesar-besarkan masalah kecil, dan terlalu cemas pada hal-hal kecil yang sebenarnya jarang terjadi.

4. Proses Seleksi

Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu turut mempengaruhi efek dari suatu kejadian.

Individu cenderung menghindari aktivitas dan situasi yang diluar batas kemampuan mereka.

Jika individu merasa yakin bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung tidak menghindari situasi tersebut.

Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu kemudian dapat meningkatkan kemampuan, minat, dan hubungan sosial mereka.

-------------------------------------------------
Sumber : Buku Self-efficacy in Changing Societies Bandura tahun 1997
Silahkan download ebook Self-efficacy in Changing Societies klik link ini = Download ebook bandura

Self Efficacy dari Bandura


PENGERTIAN SELF EFFICACY


Bandura (1997) mengemukakan bahwa self efficacy adalah evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan.

Dimensi Self Efficacy


1. Level

Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu untuk melakukannya.

Apabila individu dihadapkan pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitannya, maka self efficacy individu mungkin akan terbatas pada tugas-tugas yang mudah, sedang,

bahkan meliputi tugas-tugas yang paling sulit, sesuai dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat.

Dimensi ini memiliki implikasi terhadap pemilihan tingkah laku yang dirasa mampu dilakukannya dan menghindari tingkah laku yang berada di luar batas kemampuan yang di rasakannya.

2. Strength

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu mengenai kemampuannya.

Pengharapan yang lemah mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak mendukung. Sebaliknya, pengharapan yang mantap mendorong individu tetap bertahan dalam usahanya.

Meskipun mungkin ditemukan pengalaman yang kurang menunjang. Dimensi ini biasanya berkaitan langsung dengan dimensi level, yaitu makin tiggi level taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan yang dirasakan untuk menyelesaikannya.

3. Generality

Dimensi ini berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana individu merasa yakin akan kemampuannya. Individu dapat merasa yakin terhadap kemampuan dirinya.

Apakah terbatas pada suatu aktivitas dan situasi tertentu atau pada serangkain aktivitas dan situasi yang bervariasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy


1. Pengalaman Keberhasilan (Mastery Experience)

Mastery experience merupakan prestasi yang pernah dicapai pada masa lalu. Sebagai sumber, pengalaman masa lalu menjadi pengubah self efficacy yang paling kuat pengaruhnya.

Prestasi yang bagus meningkatkan ekspetasi self efficacy, sedangkan kegagalan menurunkan ekspektasi self efficacy. Dampak dari self efficacy berbeda-beda, tergantung dari proses pencapaiannya, yaitu:

1) Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat self efficacy semakin tinggi.
2) Kerja sendiri lebih meningkatkan self efficacy dibandingkan kerja kelompok atau dibantu orang lain.
3) Kegagalan menurunkan self efficacy, kalau orang merasa sudah melakukannya dengan sebaik mungkin.
4) Kegagalan ketika dalam suasana emosional atau stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
5) Kegagalan ketika orang memiliki self efficacy tinggi, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang memiliki self efficacy rendah.
6) Orang yang biasa berhasil sesekali gagal tidak mempengaruhi self efficacy.

2. Pengalaman Orang lain (Vicarious Experience)

Diperoleh melalui model sosial. Self efficacy akan meningkat ketika individu mengamati keberhasilan orang lain, ketika melihat orang lain dengan kemampuan yang sama berhasil dalam suatu bidang atau tugas melalui usaha yang tekun.

individu juga akan merasa yakin bahwa dirinya juga dapat berhasil dalam bidang tersebut dengan usaha yang sama.

Sebaliknya, dapat menurun ketika orang diamati gagal walaupun telah berusaha dengan keras, individu juga akan ragu untuk berhasil dalam bidang tersebut.

Peran vicarious experience terhadap self efficacy seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi diri dari individu tersebut tentang dirinya memiliki kesamaan dengan model.

3. Persuasi Verbal (Verbal Persuasion)

Self-efficacy juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi verbal. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat, persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi self-efficacy.

Kondisi ini adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistis dari apa yang dipersuasikan.

Pada persuasi verbal, individu diarahkan dengan saran, nasihat, dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan keyakinannya tentang kemampuan–kemampuan yang dimiliki yang dapat membantu mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Keadaan Emosional

Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi self efficacy dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas dan stres dapat mengurangi self efficacy,

namun bisa juga terjadi peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan self efficacy. Perubahan tingkah laku dapat terjadi kalau sumber ekspektasi self efficacy berubah.

Perubahan self efficacy banyak dipakai untuk memperbaiki kesulitan dan adaptasi tingkah laku orang yang mengalami berbagai masalah.

Proses-Proses Self Efficacy


1. Proses Kognitif

Proses kognitif merupakan suatu proses berfikir yang didalamnya termasuk pemerolehan, pengorganisasian, dan penggunaan informasi. Biasanya, tindakan manusia berawal dari sesuatu apa yang difikirkan terlebih dahulu.

Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan.

Sebaliknya, individu dengan self efficacy rendah lebih banyak membayangkan kegagalan dan hal lainnya yang dapat menghambat kesuksesan.

2. Proses Motivasi

Individu memberi motivasi untuk dirinya sendiri dan mengarahkan suatu tindakan untuk melalui tahap pemikiran-pemikiran sebelumnya.

Kepercayaan akan kemampuan diri dapat mempengaruhi motivasi dalam beberapa hal, yaitu salah satunya menentukan tujuan yang telah ditentukan individu.

seberapa besar usaha yang dilakukan, seberapa tahan mereka dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan keyakinan setiap individu dalam menghadapi kegagalan.

3. Proses Afektif

Proses afektif merupakan suatu proses pengendalian kondisi emosi dan reaksi emosional pada individu.

Menurut Bandura (1997) keyakinan individu akan coping mereka turut mempengaruhi level stres dan depresi seseorang saat mereka menghadapi situasi yang sulit.

Persepsi self efficacy tentang kemampuannya mengendalikan sumber stres memiliki peranan penting dalam timbulnya kecemasan.

Individu yang percaya akan kemampuannya untuk mengontrol situasi cenderung tidak memikirkan hal-hal yang negatif.

Individu yang merasa tidak mampu mengontrol situasi cenderung mengalami level kecemasan yang tinggi, selalu memikirkan kekurangan mereka, memandang lingkungan sekitar penuh dengan ancaman, membesar-besarkan masalah kecil, dan terlalu cemas pada hal-hal kecil yang sebenarnya jarang terjadi.

4. Proses Seleksi

Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu turut mempengaruhi efek dari suatu kejadian.

Individu cenderung menghindari aktivitas dan situasi yang diluar batas kemampuan mereka.

Jika individu merasa yakin bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung tidak menghindari situasi tersebut.

Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu kemudian dapat meningkatkan kemampuan, minat, dan hubungan sosial mereka.

-------------------------------------------------
Sumber : Buku Self-efficacy in Changing Societies Bandura tahun 1997
Silahkan download ebook Self-efficacy in Changing Societies klik link ini = Download ebook bandura

No comments

Silahkan komentar sesuai dengan topik yang di bahas sesuai artikel